Makna Haji

Musim haji sudah dekat, sudah tiba waktunya bagi yang hendak menunaikan ibadah haji untuk sekali lagi memantapkan niatnya. Mantap dengan artian bersih dalam niat, perangkat dan perilaku jiwanya. Periksa kembali kehalalan uang yang digunakan untuk membiayai keberangkatannya. Pastikan pula jiwa mana yang Anda bawa. Jiwa yang hendak bertekuk lutut dan mengakui kehinaan di hadapan Tuhan, ataukah jiwa yang hendak ‘memperalat’ Tuhan demi status baru? Ataukah sekadar memperpanjang gelar yang disandang?

Makna HajiIbadah haji adalah ritual yang sarat dengan simbolisasi penuh makna. Dari diawali dengan niat di Miqat, tawaf mengelilingi ka’bah, sa’i di antara bukit Shafa dan Marwa, sampai dengan lempar jumroh. Hakikat dari ritual-ritual itulah yang coba diuraikan secara khas dan sangat thought-provoke oleh seorang cendekiawan Iran, (almarhum) Dr. Ali Syariati dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Makna Haji.

» buy this book at Amazon.com!

Ketika beribadah haji, kita menjawab panggilan Allah SWT. Untuk apa Allah memanggil kita? Pertama, menurut Ali Syariati, adalah untuk mengingatkan kembali akan hakikat kita sebagai manusia. Melalui tawaf, Allah mendemonstrasikan kepada kita cara kerja alam semesta. Bagaimana bumi, dan planet-planet di jagat raya ini berotasi dan mengelilingi orbitnya. Itu adalah sunnah-Nya. Semuanya harus mengikuti agar selamat sampai kepada-Nya. Bagai setetes air yang dijatuhkan ke dalam aliran sungai, ia pun akan menyatu mengikuti arusnya dan menjadi semakin besar hingga akhirnya bertemu dengan samudera. Tidak seperti setetes embun di atas sehelai daun yang akan segera hilang saat diterpa sinar mentari. Demikian juga manusia, jangan hanya memandang dari pinggiran sungai, leburkanlah dirimu dalam kafilah yang akan membawamu kepada-Nya.

Kedua, untuk mengingatkan kita agar waspada akan godaan iblis yang tidak akan pernah berhenti. Wajah iblis yang dari jaman ke jaman selalu berubah-ubah agar kita tak menyadarinya. Satu wajah yang menjelma menjadi tiga wajah alias tiga entitas alias trinitas, yakni Fir’aun (politik atau kekuasaan), Karun (harta dan ketamakan), serta Balam/Haman (intelektualitas).

Melalui kisah Nabi Adam as (alaihis salam), kita diingatkan bagaimana ketika ia lalai oleh bujuk rayu iblis, dan akhirnya harus turun dari surga serta terpisah dengan Hawa. Ia hidup sendiri dan terus bertobat hingga atas izin Allah ia pun dipertemukan kembali dengan Hawa.

Juga melalui kisah keteladanan Nabi Ibrahim as. Ia hidup di rumah seorang pembuat berhala bernama Azar, di bawah kekuasaan raja Namrud yang lalim, serta beristrikan seorang perempuan aristokrat fanatik dan mandul Sarah. Ia lalu harus menikahi seorang budak berkulit hitam bernama Hajar (sehingga tidak akan membuat cemburu Sarah) dan memiliki seorang anak, Ismail. Allah menguji keimanannya dengan menyuruh mengorbankan putra satu-satunya itu. Dan begitulah, lagi-lagi setan terus menggodanya agar ia melarikan diri dari tugas tersebut. Dan melalui perjuangan yang sungguh berat, ia pun lulus dari ujian tersebut.

Intinya, penulis buku ini hendak menunjukkan kepada kita bahwa haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya. Dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji. Tidak lebih!!

Selamat menunaikan ibadah haji dan mohon do’akan agar kami yang belum kesana bisa segera menyusul.

- dimuat 18 December 2004, 08:18 di buku



Komentar

  1. hari dermanto, 22 June 2005, 03:16:
    saya sangat tertarik dengan berbagai pemikiran yang ditelurkan oleh lai syariati, yang paling menarik adalah spirit bersama masa, menearangi massa dan menghanratakan massa pada perubahan menjadi jargon dalam setip kesempatan diskusi tentang perubahan sosialyang kerap kami lakukan di HMI. saya hanya meminta agar buku-buku syariati bisa di up date kembali karena gaya berfikirnya yang provokatif dapat menjadi satu alat bagi kami dalam melakukan sebuah revolusi bersar di HMI balikpapan, buku mengenai haji ini adalah satu buku yang menarik bagi saya penyajian yang fulgar dengan sentuhan provokasi pemikiran yang lebih mengarah pada tanggung jawab sosial "tugas kemanusian manusia" menjadikan kesan bahwa ritual haji harus dinterprestasikan kembali bukan hanya sebagai gerak ritual melainkan sebagai bentuk penerjemahan gerak kesadaran transendental kepada rana-rana sosial dan ini adalah bentuk praksis dari konsepsi haji yang ditawarkan Syariati, buku ini sangat menarik. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasul dan keluarga yang suci, sahabatnya yang terpilih serta para pecinta keilmuan.
  2. pahla, 9 May 2008, 01:13:

    saya sangat mendamba-dambakan dengan ibadah haji, oleh karena itu mohon dilengkapi dengan harga tiket pesawat haji

Tulis pesan Anda

* tidak akan tampil di website