Rayuan Gombal

kangen, itu yang kau katakan saat kutelpon
kau bilang hidupmu hampa, kosong,
sepi, setiap detik-detik menungguku menelpon

katamu tiap malam kau memimpikanku
aku mengajakmu berdansa, bercumbu,
bersama mengarungi lautan asmara

katamu engkau akan selalu setia menanti
tak peduli apapun yang ‘kan terjadi
tanpaku kau bilang lebih baik mati

aku hanya tersenyum

Farid @ Petojo, 06 Juli 2002 17.04 WIB

- dimuat 7 September 2005, 02:34 di puisi



Komentar

  1. diana, 8 September 2005, 05:22:
    puisi ini sering sekali ditayang ulang? :)
  2. Farid, 8 September 2005, 05:39:
    Sering sekali?? ah nggak juga, terakhir puisi ini ada di weblogku yg dulu yg sekarang udah hilang. Jadi ini semacam reaktualisasi diri aja :)

    anyway, thx 4 atensinya ;;)
  3. yudha, 18 November 2005, 03:34:
    rayuan dan puisinya kurang menarik nih? sangat jelek sekali? sory, sebagai seorang puitikus bukannya mengejek, tapi memang kurang mengena, pada artinya kurang bagus untuk dipahami.
  4. Denardi, 22 August 2006, 09:13:

    Sori ya, menurut gue tu basi bgt. Sori…

  5. wak_ubek, 19 December 2006, 09:52:

    oi..yung ape die kau tulis mak ikak dak jaman lagi rayuan model mak itu,terti dak kau tuh.

  6. riduan, 9 April 2007, 01:37:

    tolong brikan km rayuan yg lebih bagus lg. jgn yg sring di ucapkan sehari-hari

  7. ian, 16 May 2007, 01:44:

    aq selama ini blom punya ce gmn ya caranya dapatin ce dan gmn caranya ngobalin biar aq bisa dp ce supaya aq bisa bahagia hidup ku selalu tenang

Tulis pesan Anda

* tidak akan tampil di website