Selamat Jalan atau Selamat Tinggal, Pak Tua?
Ada seorang lelaki tua, entah berapa umurnya, yang nyaris tiap hari saya lihat tak jauh dari rumah saya. Lebih dari 70 tahun saya rasa. Kalaupun usianya ternyata masih di bawah itu, ia tampaknya lebih tua daripada usianya. Tubuhnya tak terlalu besar, dan kelihatan sedikit bungkuk. Kulitnya yang kecoklatan tampak keriput. Biasanya ia duduk di pelataran depan masjid yang saya lewati. Ia memakai baju kaos dan celana pendek, berpeci bundar putih, dan membawa sarung. Kadang sarung itu dipakai tinggi-tinggi, namun tak jarang hanya dikalungkan saja di lehernya.
Saya tidak tahu dimana rumahnya. Saya juga tidak tahu apakah ia masih memiliki keluarga atau tidak. Yang saya tahu, ia selalu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada orang-orang yang lewat di depan masjid, baik yang berjalan kaki maupun yang naik sepeda motor. Entah apa maksud dari senyum dan lambaian tangannya. Barangkali ia teringat kepada anaknya atau istrinya yang telah pergi namun dulu belum sempat ia salami. Belum sempat ia ucapkan selamat jalan. Atau mungkinkah ia hanya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada dunia. Dunia yang selama ini telah ia tinggali dengan berbagai kenangan kisah suka dan duka. Barangkali kini ia sudah siap berpisah dengan dunia tersebut. Dan suatu saat kelak ketika ia dipanggil menghadap-Nya, tak lagi ada penyesalan. Entahlah. Alloh lebih tahu apa yang ada di dalam hati setiap manusia. Dan Alloh lebih mengetahui umur seseorang.
Saya sendiri belum pernah membalas lambaian tangannya dengan sungguh-sungguh sebagaimana lambaian saya kepada Wafi setiap berangkat kerja. Mungkin saya sebegitu takut dianggap tidak waras oleh orang lain karena melayani lambaian tangan tidak-jelas Pak Tua itu. Mungkin juga karena saya merasa tidak mengenalnya dan tidak yakin lambaian tersebut untuk saya. Saya hanya membalas senyumannya.
