Gamang aku masuk
Lorong di persimpangan yang menganga
Di antara serapah dan galian kata
Keperawanan yang mengerak
Degup-degup saling sergap
Berkejaran dengan senyuman
wewangian datang pergi
Ada sepasang malaikat
Setrika bulu putihnya di pelupukku
Betapa megah, sayap-sayap yang meliuk
Dan mata pedang yang mengilau
Dan kemudian… Tiada kemudian
Kudengar langkahku menggema
Di jalan lain, begitu hiruk
Tak lagi ke depan
Aku tak pernah sampai
Bersekongkolkah mereka?
Farid @ Damai, 21 Mei 2007 01.25 WIB
- dimuat 20 May 2007, 16:41 di puisi
Komentar