Seiring dengan terpakunya diriku mengenang
perjumpaan singkat itu
Begitu juga senyummu
terus mengembang
"Hanya ini yang bisa kuberikan"
Hati-hati kau mengulurkan puisi
tertulis pada dedaunan kering
buram dan tak jelas
"Bacalah segera", katamu
"Sebelum hembusan angin meleburkannya,
menjadi serpihan-serpihan lembut tak berjejak"
Tapi tak kulihat sebentuk tulisan
Hanya imaji senyuman
milikmu
Dan sebuah gambar bibir
milikmu?
Aku tak mengerti
Aku bertanya, kenapa tak kau pahatkan saja
pada dinding, pada batu,
biar tak cuma mengendap dalam mimpi,
biar abadi
Hanya senyummu yang manis itu jawabannya
Dan kau pun pergi
Farid @Jernih, 09 Oktober 2007 14.53 WIB
- dimuat 9 October 2007, 14:47 di puisi
Komentar
vera, 17 November 2007, 16:20:
ok juga nich puisi..dalem buangetzzzz..coz,perasaan g juga ge broken heart n puisi ini pas g baca,g tertarik banget.pkoknya is the best dech!!!!
Amago kotaide, 21 November 2007, 18:24:
kamusnya yang lengkap donk!!! yang kaya di buku!!! massa internet ga ada!!!