Membeli Uang
Di sebuah mal tak jauh dari rumah, siang itu akhirnya saya bermaksud membelikan Wafi, yg kini sudah nyaris 4 tahun, sebuah mainan kereta-api yang sudah direngeknya sejak beberapa minggu sebelumnya. Berdua dengannya, saya mampir dulu ke sebuah deretan mesin ATM berbagai bank, memilih mesin ATM yang sesuai dengan bank saya, lalu masuk ke dalam antrian pengambil yg gak terlalu panjang.
Wafi, yang dari tadi nggak pernah berhenti bertanya apapun yang tampak di depan matanya, memulai lagi: “Mau apa, yah?”
Saya: “Sebentar, Lé”, (baca: Nak), “mau ambil uang dulu”
W: “Uang ayah habis ya?”
Sebelum sempat saya menjawab, dia sudah melanjutkan
W: “Dihabisin siapa, Yah?”, sambil bibirnya monyong, “dihabisin mama ya?”
S: “Nggak, dihabisin ayah, mama, wafi, sama adik Vina”
Dia diam sejenak memperhatikan orang yg sedang di depan ATM, dan melanjutkan: “Buat beli apa yah?”
S: “Buat beli aapaa?”, saya balik bertanya, sambil mengeluarkan kartu ATM, dan bergerak maju ke depan mesin. Antrian habis.
W: “Buat beli keretanya Pi ya, Yah”
Dia memanggil dirinya sendiri Pi. Tak jelas antara pernyataan atau pertanyaan.
W: “Kartu itu mau dimasukkan situ ya, Yah?”, nunjuk kartu yg saya pegang, lalu nunjuk ATM.
S: “Iya, dimasukkan sini, Lé”, sambil berkonsentrasi memasukkan pin dan melakukan transaksi cepat pengambilan tunai. Segera mengambil uang dan kartu yg keluar, lalu beranjak sambil menggandeng tangannya.
Kami berjalan menjauh dari ATM. Sepertinya dia sudah mendapat informasi yang cukup dan siap buat menarik kesimpulan.
W: “Ayah.. ayah”, sambil menarik tangan saya meminta perhatian, “Tadi ‘kan uang ayah habis?”, lagaknya seperti sedang bercerita ke adiknya, “Trus ayah bawa kartu.”
S: pengen nyela, tapi sepertinya dia belum selesai
W: “Trus, kartunya dimasukin di situ”, lanjutnya sambil nunjuk ke belakang, “buat membeli uang, Yah. Trus, uangnya keluaarrrr. Ya, Yah??”, sambil nyengir minta persetujuan.
Selamat Datang, Kakak Kecil!
Selamat buat kelahiran putra pertama Mas Uuk dan Ning Rufiah hari Sabtu, 28 Juli kemarin sekitar jam 9 pagi melalui operasi.
Muhammad Najmuddin (Najah). Si kakak kecil bagi Wafi. Semoga sang kakak kecil kelak menjadi anak yang sholeh serta tumbuh sesuai dengan do’a dan harapan kedua orang tuanya. Amin.
***
Sepuluh tahun pastilah bukan waktu yang singkat bagi sampean berdua menunggu kehadiran seorang anak. Saya tidak tahu bagaimana perasaan yang dirasakan. Barangkali antara lelah karena telah banyak berikhtiar tapi belum berhasil, dan juga pasrah terhadap keadaan. Entahlah.
Dan ketika yang ditunggu telah datang, tentu segala harapan yang sempat redup, kembali bersinar terang. Bagai seorang musafir yang kehausan di tengah padang pasir, lalu menemukan oasis di saat-saat kritis. Kelelahan, panas terik, dan segala susah payah seolah sirna hanya dengan seteguk air. Seteguk air yang dapat membangkitkan semangat untuk dapat mengatasi segala rintangan yang siap menghadang di depan.
Sekali lagi, selamat, akhirnya wafi punya teman bermain lagi. Do’akan kami juga ya.
Mandi Wafi
Gara-gara melihat putrinya Arif pas sedang mandi (baca: dimandikan) tadi pagi, saya jadi ingin bernostalgia. Bukan nostalgia ingin dimandiin, tapi nostalgia Wafi mandi pagi.
Sejak bayi Wafi selalu kami biasakan untuk langsung mandi begitu dia bangun pagi ataupun dibangunkan. Umumnya sih sekitar jam 5 sampai setengah 6-an. “Biar dia sudah seger dan wangi sebelum nanti ada orang yang pengen menggendongnya”, kata mamanya. Untuk ukuran waktu lokal Pasuruan, jam segitu itu sudah cukup terang, sudah banyak yang memulai aktifitas. Tapi beda dengan ukuran waktu di Jakarta. Di Jakarta, itu berarti sekitar 1/2 jam lebih pagi. Masih agak gelap. Kecuali rumah Anda di Bekasi atau Bogor dan bekerja di daerah Jakarta, Anda tidak akan mandi sebelum jam itu.
Saya sih sangat jarang (kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah) memandikan Wafi, apalagi waktu masih bayi dulu, mamanya yang biasanya melakukan. Saya nggak berani, takut nanti terjadi apa-apa. (Ah, ALASANN!!). Saya hanya membantu menyiapkan prosesi sebelum mandi. Menyiapkan bak mandi. Menyiapkan air panas (Wafi mandi dengan air hangat sampai sekitar usia 4 bulan, setelah itu mandi pakai air biasa). Melepas pakaiannya. Menyiapkan handuk dan pakaian ganti, serta tetek bengek cologne, bedak, dan teman-temannya.
Sembari memandikan Wafi, dia biasanya sambil menyenandungkan lagu sederhana. Syairnya berbahasa jawa, isinya tentang do’a orang tua buat anaknya. Entah dapat darimana dia lagu itu. Kami memberinya judul Mandi Wafi. Syairnya begini:
Mandi Wafi..
gelis gede.. (semoga cepat besar)
cepak sak rejekine.. (semoga rejekinya lancar)
cepak jodone.. (semoga kelak jodohnya mudah)
adoh blaine.. (semoga dijauhkan dari malapetaka)
ilang sawan sarafe.. (semoga dijauhkan dari segala penyakit)
kari seger warase.. (semoga diberikan kesehatan)
***
Ketika Wafi berusia sekitar setahun, hingga kini, lagu itu tak dinyanyikan lagi. Bukan berarti kami tak lagi mendo’akannya, namun kami menggantikannya dengan kebiasaan lain. Setelah ritual mandi-keramas-gosok gigi selesai, mamanya akan mengajak dia untuk berwudlu’. “Biar kelak dia menjadi orang yang senantiasa mensucikan diri”, kata mamanya. Amin.
Dalam Hati Wafi Siapa yang Tahu?
Sekitar dua minggu yang lalu, sesaat setelah pindah rumah, seorang rekan yg sekaligus tetangga baru saya menyatakan rasa ingin tahunya kepada saya.
“Kira-kira apa ya yang dirasakan Wafi saat ini?”, katanya, “Masuk ke rumah baru, bertemu orang-orang baru, bingung nggak ya dia?”
Hmmm.. bikin saya penasaran juga, bagaimana ya perasaannya?
Wafi saat ini baru berusia 14 bulan. Dan meski sebelumnya kami telah memberitahunya secara lisan bahwa kami dan tentu ia juga akan pindah rumah, sepertinya pesan itu belum sampai secara utuh. Terbukti, sesaat sebelum pergi ke rumah baru, ia masih sangat ceria, bercanda dan masih kejar-kejaran (merangkak) dengan saya di rumah sempit yang tiba-tiba menjadi lega karena isinya telah dipindahkan itu. Namun setiba di rumah baru, ia tak lagi terlihat ceria. Terhadap beberapa tetangga baru, mungkin karena masih asing, ia tak mau didekati. Ia pun jadi sering nangis dan menunjuk-nunjuk ke arah yang tak jelas. Mungkin seperti seorang anak yang tak kerasan saat diajak bertamu ke rumah orang lain dan merengek-rengek ke ibunya minta segera pulang. Rupanya Wafi belum tahu bahwa inilah kini rumahnya.
Untunglah semuanya tak berlangsung lama. Sedikit tapi pasti ia mulai mengenal dimana rumahnya, siapa-siapa saja tetangganya, dan mulai berkurang rewelnya. Untungnya lagi di situ ia punya teman baru, Krishna, putranya Cak Usma, yang meski usianya sudah sekitar tiga tahunan tapi masih lucu dan juga kelihatan gemes sama Wafi. Jadi ia semakin cepat kerasan.
Yah, mudah-mudahan saja Wafi bisa cepat beradaptasi dan segalanya berjalan lancar. Amin.
Setahun T’lah Terlewat, Semoga S’lalu Sehat
Hari ini, setahun kemarin, juga sekitar jam ini semua itu terjadi. Ia hadir tanpa kehadiran saya di sampingnya. Alhamdulillah, juga berkat dukungan dari anggota keluarga yang lain, persalinan secara cesar tersebut berjalan lancar.
Kini, setelah setahun berlalu, banyak hal telah terjadi padanya. Sebagian baik, sebagian lagi kurang begitu baik. Bukan masalah. Normal. Toh, kondisi ideal memang seringkali sulit didapatkan. Sebagai orang tua, saya berdua istri tentu akan berusaha sebaik-baiknya dalam membesarkan dia. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kami untuk itu.
Selamat ulang tahun ya, Lé. Semoga engkau senantiasa dikaruniai kesehatan dan kelak menjadi anak yang sholeh, taat kepada Allah dan rosul-Nya, berbakti kepada kedua orang tua, memiliki sopan santun terhadap sesama, cerdas, tangkas, kreatif, serta dapat menjadi penyejuk mata bagi setiap yang memandangnya. Amin.
