Wafi is Back
Sekitar 5 bulan yang lalu, perpisahan membuat mereka berdua menangis. Bukan terharu. Melainkan terbayang betapa pasti akan merindu. Saya tidak turut acara menangis. Bukannya saya tak sayang -meski istri sempat meragukan-, tapi kalau air mata tak keluar mau diapain lagi.
Satu bulan kemudian, mereka, juga saya bertemu. Tapi kali itu tidak pakai acara menangis lagi. Bahkan ketika seminggu kemudian harus mengulangi perpisahan. Mungkin istri saya berpikir semuanya toh akhirnya bisa dilewati dengan baik. Apalagi hal itu dilakukan demi kebaikan buah hatinya.
2 bulan yang lalu, hal yang sama terulang. Namun ternyata tak seperti yang terjadi seminggu yang lalu. Di satu sisi, kebaikan yang diharapkan, telah lumayan tercapai. Namun di sisi lain, sosok mamanya menjadi asing baginya. Seperti ada jarak—kali ini saya tidak bicara tentang jarak fisik. Ya, cukup meresahkan juga sih kalau harus seperti itu. Alhamdulillah, dalam seminggu ini semuanya menjadi lebih baik. Belum seperti yang diharapkan, tapi ada progres yang meningkat. Mudah-mudahan jarak tersebut memang hanya sementara. Dan semoga perpisahan tidak harus terjadi lagi.
Arti Sebuah Nama
“Apalah arti sebuah nama”, ujar sang pujangga, William Shakespeare, seperti dikutip dari www.ArtiNamaku.com.
Tentu saja, nama sebaik apa pun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Dalam konteks ini, sebuah nama hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Tanda yang digunakan agar seseorang tahu sedang dipanggil oleh orang lain. Tanda untuk absensi saat di sekolah. Tanda dalam kartu pengenal. Tanda yang perlu dicantumkan pada surat undangan pernikahan. Dan masih banyak lagi. Bayangkan betapa sulitnya menunjuk seseorang bila tanpa menggunakan nama. Untuk mengatakan Joko, barangkali orang harus mengatakannya dengan lelaki-berwajah-oval-dan-berhidung-mancung-yang-tinggal-di-belakang-pos-kamling-RW-7. Fiuuuhh..
Tidak ada informasi dengan jelas sejak kapan peradaban manusia pertama kali menggunakan nama. Situs ArtiNamaku.com menyebutkan bahwa meskipun setiap kultur di muka bumi ini menggunakan nama, ternyata penggunaannya dapat bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain. Ada yang menggunakan nama dengan sangat sederhana seperti di Indonesia, yang hanya menggunakan satu kata seperti Parto, Paryono, Hamid, dan Soeharto. Namun ada pula yang penggunaan namanya sangat kompleks seperti pada tradisi masyarakat Cina.
Beberapa model nama mengandung informasi tentang silsilah seseorang, semisal nama keluarga atau marga. Biasanya model nama seperti ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama bisa juga mengandung informasi urutan lahir seseorang seperti yang digunakan oleh masyarakat Bali dan juga beberapa kultur di Afrika. Atau given name seperti pada tradisi barat yang merupakan semacam nama pemberian yang diberikan pada suatu waktu setelah seorang anak lahir.
Pada konteks di atas, barangkali arti sebuah nama memang tidak lebih dari sebuah pengenal untuk membedakan seseorang dengan orang lainnya. Lain soal bila nama dibuat orang tua agar semua orang turut mendoakan anaknya. Orang tua mana yang tak senang saat orang lain memanggil anaknya yang diberi nama Tampan Putra Setiadi dengan, “Hai Tampan, apa kabar?” :) Bukankah selain memanggil, ia sekaligus memuji sang anak serta mendo’akan semoga selalu tampan, lahir dan batin.
Seperti halnya kami memberi nama putra kami Muhammad Fairuzul Wafi Faradis, tentu dengan maksud agar kelak ia dapat meniru keteladanan Rasululloh Muhammad SAW dan menjadi seorang yang bersinar cemerlang dan bernilai bagai permata biru sempurna di surga. Nama panggilannya pun Wafi yang berarti sempurna, tentu supaya setiap orang yang memanggilnya turut mendo’akannya untuk menjadi manusia yang lebih sempurna. Semoga Alloh SWT mengabulkan do’a tersebut.
Wafi Beraksi Dalam Galeri
Hari Sabtu kemarin kami dapat kabar bahwa gigi pertama Wafi telah tumbuh. Usianya saat ini telah memasuki bulan ke tujuh. Saya tidak tahu apakah pada usia tersebut memang saatnya gigi tumbuh atau tidak. Istri saya mengatakan mungkin dulu waktu nanam ari-arinya kurang dalam, jadi gigi pertamanya tumbuh lebih awal. Lucunya, menurutnya kalau ari-arinya ditanam terlalu dangkal, maka kelak si bayi juga akan menikah di usia muda. Emang bener ya?? Ada hubungannya nggak sih? :D
Oh iya, barangkali ada yang pengen lihat-lihat aksi sang permata kami, saya telah mengupload beberapa gambarnya yang dapat Anda buka di menu galeri. Foto tersebut saya ambil sewaktu pulang kampung akhir tahun 2004 kemarin. Berhubung gambarnya saya ambil dengan kamera analog, jadi foto-foto itu baru bisa saya scan dan saya upload hari ini.
Oh iya (lagi), saya juga baru tahu kalau beberapa hari terakhir ada beberapa komentar dari Anda (Mbak Diana, Shant, Joko, Nana, dan Arif) yang secara sadis dihapus oleh plugins anti-spam SpamKarma yang saya pasang beberapa waktu yang lalu. Saya benar-benar mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami di website ini. Saat ini saya telah mengembalikan komentar Anda ke tempatnya semula, dan juga telah mengambil tindakan yang diperlukan agar kejadian ini tidak terulang kembali. Mohon kabari saya ya, bila Anda masih mengalami kejadian seperti ini lagi (nulis komentar tapi komentar tidak tampil di website). Terima kasih.
Libur Tlah Tiba
Kebetulan mulai Jum’at besok kantor saya libur sampai tanggal 2 tahun depan, jadi besok pagi mau berangkat mudik. Sudah kangen nih sama Wafi. Hari ini tepat ulang bulannya yang keenam. Dia pasti sekarang sudah tambah besar dan semakin berat digendongnya hehehe… Atau jangan-jangan dia mulai lupa sama ayah dan mamanya setelah sebulan setengah nggak ketemu :( Nah pas baliknya nanti Wafi rencananya akan kami ajak lagi ke Jakarta, sekalian buat nemenin mamanya yang katanya selalu kesepian tiap ditinggal ayahnya kerja ;)
Dan, in case nanti saya belum bisa posting lagi sampai tahun depan, saya ucapkan Selamat Hari Natal bagi yang merayakannya, Selamat Berlibur, dan juga Selamat Tahun Baru 2005, semoga dengan bergantinya tahun ini Allah SWT akan menjadikan mimpi dan harapan kita semua menjadi kenyataan. Amin.
Wafi on Hiatus
Setelah lebih dari seminggu kemarin sibuk dengan acara mudik berlebaran di kampung halaman, saya dan istri akhirnya balik lagi dan sampai di Jakarta Senin malam. Sad to say, tanpa Wafi. Dari pengamatan keluarga kami di sana, katanya leher Wafi terlalu lemas sehingga kurang bisa menahan kepalanya sendiri saat ditegakkan, padahal usianya sudah hampir lima bulan. Selama seminggu kemarin ia dua kali diurutkan di tukang urut bayi. Alhamdulillah, sudah mulai kelihatan hasilnya.
Lalu Umik mengusulkan agar Wafi ditinggal dulu saja di sana barang sebulan biar bisa teratur diurut. Padahal istriku tidak bisa ikut tinggal karena tiket kereta api buat besoknya sudah terlanjur dipesan. Ia sebetulnya tidak tega meninggalkannya, tapi kasihan juga kalau nantinya sampai terlambat ditangani. Akhirnya istriku setuju mengingat Wafi tidak lagi netek sama mamanya dan ia percaya Wafi sudah ‘mengenal’ Umik dengan baik dan begitu juga sebaliknya.
Tampaknya keputusan itu mudah dibuat, tapi ternyata tidak mudah dijalaninya. Selama di perjalanan balik ke Jakarta hingga tiba, istriku sering menangis karena kangen dan tak tega meninggalkan Wafi. Padahal sebelumnya ia sendiri yang memutuskan bersedia ditinggal. Yah, namanya juga ibu, ikatan batinnya sangat kuat dengan anaknya melebihi siapapun.
Sesampai di Jakarta, kami berdua langsung terserang diare selama 2 hari. Fiuh.. untung Wafi kami tinggal di sana, jadi ia tidak ikut terserang diare. Semoga ia baik-baik di sana bersama Umik dan tujuan kami meninggalkannya sementara di sana tercapai. Amin. Sampai jumpa satu bulan lagi ya, Nak! Kami berdua sangat merindukanmu.
