Jauhkan Dariku

sudah kubilang
aku takut setrum

aku ini manusia
yang terbunuh
jika kau setrum hatiku

Farid @Jernih, 03 Juni 2008 13.33 WIB

Komentar [6] - dimuat: 4 June 2008, 01:41 - kategori: puisi

Arti Pesanmu

Seiring dengan terpakunya diriku mengenang
perjumpaan singkat itu
Begitu juga senyummu
terus mengembang

"Hanya ini yang bisa kuberikan"
Hati-hati kau mengulurkan puisi
tertulis pada dedaunan kering
buram dan tak jelas

"Bacalah segera", katamu
"Sebelum hembusan angin meleburkannya,
menjadi serpihan-serpihan lembut tak berjejak"

Tapi tak kulihat sebentuk tulisan
Hanya imaji senyuman
milikmu
Dan sebuah gambar bibir
milikmu?

Aku tak mengerti
Aku bertanya, kenapa tak kau pahatkan saja
pada dinding, pada batu,
biar tak cuma mengendap dalam mimpi,
biar abadi

Hanya senyummu yang manis itu jawabannya
Dan kau pun pergi


Farid @Jernih, 09 Oktober 2007 14.53 WIB

Komentar [2] - dimuat: 9 October 2007, 14:47 - kategori: puisi

Puisimu Puisiku

Puisimu tercipta, puisiku terluka
Puisimu semesta, puisiku sehasta

Puisimu nafasku, puisiku merindu
Puisimu untukku, puisiku tak tentu

Puisimu bertabuh, puisiku mengaduh
Puisimu tertadah, puisiku berdarah

Puisimu tertulis, puisiku terkikis
Puisimu terkenang, puisiku menghilang

Puisimu sunyi, puisiku nyeri
Puisimu terganti, puisiku mati



Farid @Damai, 04 September 2007 20.58 WIB

Komentar [10] - dimuat: 5 September 2007, 10:01 - kategori: puisi

Sketsa Fajar

Nanti, jika ufuk jingga merekah lagi
Mungkin takkan kau temukan sapaku di langit ruangmu
Aku sedang bergegas tak tentu
Entah kemana kan kutuju

Nanti, kan kumamah sunyi ini
Mungkin takkan kau mengerti
Andai engkau di sini
Letih diri ini takkan menjelma nyeri



Farid @Damai, 03 September 2007 05.59 WIB

Komentar [1] - dimuat: 3 September 2007, 13:56 - kategori: puisi

Yang Selalu...

Pagi ini, rintik hujan itu tetap
tak dapat membasahi nafasku
yang kokoh berlindung
di balik nafasmu
Menyelimuti jiwaku
dari dinginnya kerinduan
akan keindahanmu
Memayungi hatiku
dari teriknya serapah
yang membakar jubah kemaluanku
Tak ada yang dapat menghentikan hatiku
untuk tak henti mensajakkan dirimu
Begitu damai
Sedamai kelembutan angin malam
kala membelai rambut indahmu
Ah, lagi-lagi..
tak bosannya kulagukan dirimu



Farid @Damai, 29 Juni 2007 06.07 WIB

Komentar [1] - dimuat: 29 June 2007, 14:14 - kategori: puisi

Previous